Sabtu, 08 Oktober 2022

Kota

Hengki Atmadji


1. Definisi Kota

Kota adalah pusat komersial dan industri, merupakan kependudukan-kependudukan dengan tingkat pemerintah sendiri yang diatur oleh pemerintah kota. Kota-kota itu juga merupakan pusat-pusat untuk belajar serta kemajuan kebudayaan (John Sirjamaki, 1964).

Kota dapat diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan yang tinggi dan diwarnai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen dengan coraknya yang materialistis dengan wilayah belakangnya (Bintarto, 1977).

Kota dapat dicirikan dari penduduknya yang makin bertambah dan makin padat, bangunan-bangunannya yang semakin rapat dan wilayah terbangun terutama permukiman yang cenderung semakin luas, serta semakin lengkapnya fasilitas kota yang mendukung kegiatan sosial dan ekonomi kota (Branch, 1995).

Kota adalah suatu permukiman yang bangunan rumahnya rapat, dan penduduknya bernafkah bukan pertanian. Suatu hal yang khas bagi suatu kota adalah bahwa kota itu umumnya mandiri atau serba lengkap (self contained), yang berarti penduduk kota bukan hanya bertempat tinggal saja di dalam kota itu, tetapi bekerja mencari nafkah dan berekreasi pun dilakukan di dalam kota itu. Kota menyediakan segala fasilitas bagi kehidupan baik sosial maupun ekonomi (Dickinson dalam Jayadinata, 1999).

Di Jawa, kota dikenal sebagai kuta untuk membedakannya dari desa. Secara harfiah, kuta berarti daerah permukiman yang dilindungi oleh dinding yang dibangun mengeliling menurut bentuk pasagi  (Wiryomartono, dalam Wahyudi, 2006).

Kota menurut perspektif sosial didefinisikan oleh Ferdinand Tönnies dalam Suparlan (2004)
- Hubungan antar masyarakat kota bersifat gesellschaft/society/patembayan
- Hubungan antar masyarakat desa bersifat gemeinschaft/community/paguyuban

Kota Menurut perspektif ekonomi (Max Weber, 1966)
- Market Place
- Market Settlements

https://perencanaankota.blogspot.com/2018/11/pengertian-kota-sosiologi-kota-dan.html

Ruang Kota menurut perspektif antropologi sosial (Hall dalam Suparlan, 2004)
- Fixed feature dimana fungsinya jelas untuk 1 kegunaan
- Semi fixed feature dimana fungsinya lebih dari 1 kegunaaan
- Informal, dimana batas-batasnya tiidak dapat dilihat

Kota menurut National Urban Development Strategy (NUDS)
Kota adalah satu wilayah yang menjadi pusat pelayanan kegiatan berbagai produksi, distribusi dan juga jasa-jasa sehingga mampu mendukung pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah.

Kota menurut Ditjen Cipta Karya
Kota adalah permukiman yang memiliki jumlah masyarakat yang relatif besar dengan luas areal terbatas, sehingga kota bersifat nonagraris.

Kota menurut Sutami
Kota adalah suatu daerah yang memiliki koleksi, distribusi, dan produksi (koldip), di berbagai wilayah yang ada di sekitarnya.

Kota menurut Bhudy Tjahjati Soegijoko
Kota adalah suatu wilayah yang menjadi pusat pelanan jasa, produksi, dan menjadi gerbang transportasi bagi setiap kawasan permukiman di sekitarnya.

Kota menurut Djoko Sujarto
• Demografi, yaitu kepadatan penduduk yang tinggi dengan kepadatan yang lebih tinggi dibandingkan       dengan wilayah sekitarnya.
• Sosiologis, yaitu adanya sifat heterogen yang melingkupi kehidupan sosial masyarakat.
• Ekonomi, yaitu adanya proporsi pekerjaan yang dominan di sektor non-pertanian seperti ; industri,          perdagangan, jasa dan transportasi.
• Fisik yang dalam hal ini didominasi oleh kawasan terbangun dan struktur terbangun.
• Administrasi yang memiliki wilayah kewenangan dibatasi dan ditentukan oleh peraturan berlaku.
https://www.pinhome.id/blog/pengertian-kota-menurut-para-ahli-ciri-dan-potensinya/

Kota menurut Hidayat (2019)
• Secara geografis: pemusatan aktivitas harian manusia di lokasi yang secara geografis strategis
• Secara geofisik: daerah yang secara fisik didominasi oleh struktur buatan manusia
• Secara demografis: pemusatan populasi yang lebih tinggi dari pada daerah sekitar
• Secara statistik: daerah dengan demografi tertentu
• Secara sosial: daerah berkumpulnya aktivitas sosial, formal-informal,dan kelompok-kelompok sosial
• Secara ekonomi: daerah dimana aktivitas ekonomi non-agraris terkonsentrasi
• Secara administratif: wilayah dengan batas-batas administrasi yang ditetapkan oleh peraturan
• Secara teknis planologi: wilayah pemusatan populasi dan fasilitas kegiatan penduduk yang tinggi serta    dilengkapi dengan infrastrukturnya.

Kriteria Kota
Amos Rapoport dalam Fahmi (2009) menrumuskan kriteria sebuah kota sebagai berikut :
  1. Ukuran dan jumlah penduduknya besar terhadap massa dan tempat
  2. Bersifat permanen
  3. Kepadatan minimum terhadap massa dan tempat
  4. Struktur dan tata ruang perkotaan seperti yang ditunjukkan oleh jalan dan ruang ruang perkotaan             yang nyata
 5. Tempat dimana masyarakat tinggal dan bekerja
 6. Fungsi perkotaan minimum yang terperinci, yang meliputi ; sebuah pasar, sebuah pusat
     adminitrasif atau pemerintahan, sebuah pusat militer, sebuah pusat keagamaan atau sebuah pusat              aktifitas intelektual bersama dengan kelembagaan yang sama
 7. Heterogenitas dan pembedaan yang bersifat hirarki pada masyarakat
 8. Pusat ekonomi perkotaan yang menghubungkan sebuah daerah pertanian di tepi kota dan memproses       bahan mentah untuk pemasaran yang lebih luas
9. Pusat pelayanan bagi wilayah wilayah lingkungan setempat
10. Pusat penyebaran, memiliki suatu falsafah hidup perkotaan pada masa dan tempat itu

Sutriadi (2022) menyatakan ada 4 (empat) aspek perbedaan kota tradisional dan kota modern. Keempat aspek tersebut adalah :
  1. Ruang/morfologi
  2. Ekonomi
  3. Politik
  4. Sosial budaya


Gambar Perbedaan Kota Tradisional dan Kota Modern

Kawasan Perkotaan
Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi (PP No. 21/2021)

Perbedaan Kota dan Kawasan Perkotaan
    - Kota : mengacu pada batas adminsitrasi pemerintahan kota
    - Kawasan Perkotaan : mengacu pada batas fungsional pelayanan perkotaan

2. Elemen Kota 

Menurut Hidayat (2019), kota dibentuk oleh ; 1) elemen fisik dan 2) elemen non fisik. Elemen fisik tersebut merupakan elemen dasar pembentuk kota.
   • Doxiadis : elemen kota terdiri dari ; nature, antropos, society, shells, network
   • Kevin Lynch : elemen kota terdiri dari ; path, edge, district, node and landmark
   • Patrick Geddes : elemen kota terdiri dari; place, work, and folk
   • Hamid Shirvani : elemen kota terdiri dari : land use, the age and condition of buildings, traffic and          parking, open spaces/green open spaces (GOS), pedestrian ways, support for activities, signage               preservation,
   • Kussudiarso Hadinoto : elemen kota ; wisma, karya, marga, suka, penyempurna

3. Perkembangan dan Pertumbuhan Kota

Menurut Lewis Mumford (1961) perkembangansuatu kota melalui 6 tahapan yaitu :
   1. Tahap Eopolis : Perkembangan desa yang teratur menuju arah kehidupan kota.
   2. Tahap Polis : Perkembangan kota yang sebagian penduduknya masih berorientasi pada sektor                                         agraris.
   3. Tahap Metropolis : Perkembangan kota yang telah mengarah pada kegiatan industri.
   4. Tahap Megapolis : Wilayah perkotaan yang terdiri atas gabungan beberapa kota metropolis.
   5. Tahap Tyranopolis : Perkembangan kota yang ditandai dengan kekacauan, kemacetan lalu lintas,             dan tingkat kriminalitas tinggi.
   6. Tahap Nekropolis : Suatu kota yang mulai ditinggalkan penduduknya dan menjadi kota mati.

https://dosengeografi.com/perkembangan-kota-menurut-lewis-mumford/


Menurut Bintarto (1977) perkembangan fisik suatu kota  terdiri dari :
  • Perkembangan Horizontal
Cara perkembangan ini mengarah ke luar. Artinya daerah bertambah, sedangkan ketinggian dan kuantitas lahan yang terbangun tetap. Perkembangan dengan cara ini ini terjadi di pinggir kota, karena harga lahan masih lebih murah dan dekat jalan raya yang mengarah ke kota.
  • Perkembangan Vertikal
Cara perkembangan ini mengarah ke atas. Artinya, daerah pembangunan dan kuantitas lahan yang terbangun tetap, sedangkan ketinggian bangunan bertambah. Perkembangan dengan cara ini sering terjadi di pusat kota dan di pusat-pusat perdagangan yang memiliki nilai ekonomi. Hal itu dikarenakan harga lahan di daerah tersebut mahal.
  • Perkembangan Interstisital
Cara perkembangan ini ke dalam. Artinya, daerah dan ketinggian bangunan rata-rata tetap sama, sedangkan kuantitas lahan yang terbangun bertambah. Perkembangan dengan cara ini sering terjadi di pusat kota serta antara pusat dan pinggir kota yang kawasannya sudah dibatasi dan hanya dapat dipadatkan.

https://docplayer.info/68284524-Geografi-sesi-desa-kota-2-a-pengertian-kota-a-peraturan-menteri-dalam-negeri-ri-no-4-tahun-b-r-bintarto-b.html


Gambar Perkembangan kota Jakarta

Fase Perkembangan Kota Depok
1695 Cornelis Chastelein membeli tanah di depok seluas 1.224 hektar untuk kegiatan  pertanian/                       perkebunan Depok Lama
1871 Pembentukan Pemerintahan Kota (Gemeente) Depok
1873 Pembangunan Jalur KA Jakarta-Bogor oleh Nederlansch Indisch Spoorweg Maatschappij (NISM)            dan Stasiun Depok
1930 Peresmian Elektrifikasi jalur KA Jakarta-Bogor
1953 Penyerahan Tanah Partikelir Depok ke Pemerintah Indonesia (Kawedanan Depok)
1976 Pemerintah (melalui Perum Perumanas) membangun Depok sebagai Dormitory Town
1982 Pembentukan Kota Administratif Depok di bawah Kabupaten Bogor
1987 Peresmian kampus baru UI
1992 Pelebaran Jalan Margonda sebagai akses utama
1999 Pembentukan Pemerintah Kota Depok
2003 Peresmian Jalan Juanda oleh Menteri Kimpraswil
2019 Peresmian jalan Tol Cijago Seksi II (Cisalak-Margonda) oleh Presiden
2019 Peresmian Jalan Tol Desari Seksi I

4. Teori-teori Struktur Ruang Kota

Sitorus (2019) dalam bukunya menulis bahwa ada 7 teori tentang pembentukan struktur ruang kota yaitu :
   1. Teori Zona Konsentris
Teori zona konsentris yang dikemukakan oleh Burges pada 1923. Dalam teori ini struktur ruang kota ini zona penggunaan lahan berbentuk konsentris ke segala arah terdiri dari :
         1. Kawasan pusat bisnis (central business district),
         2. Zona transisi (zone of transition),
         3. Perumahan masyarakat kelas bawah (residential lower class),
         4. Perumahan masyarakat kelas menengah (residential middle class)
         5. Perumahan masyarakat kelas atas (residential upper class).


                Gambar Teori Zona Konsentris

https://www.seputargeografi.com/2021/12/perbedaan-3-teori-klasik-sturktur-ruang.html 

    2. Teori Poros
Teori Poros ini dikembangkan oleh Babcok pada tahun 1932. Teori ini menjelaskan bahwa perkembangan struktur ruang kota ditentukan oleh jaringan transportasi regional yang menuju pusat kota sebagai simpul transportasi. Perkembangan ruang kota berawal di sepanjang jaringan transportasi (jalan raay dan jalu KA) dan melebar ke sgala arah seperti teori konsentrik. Penggunaan lahan yang membentuk struktur ruang kota terdiri dari :        
        1. Kawasan pusat kota (CBD)
        2. Zona peralihan (transition zone)
        3. Perumahan masyarakat penghasilan rendah (low income housing)
        4. Perumahan masyarakat berpenghasilan menengah (middle incoma housing)
 
Gambar Teori Poros
https://www.siswapedia.com/teori-tentang-struktur-ruang-kota/
    
    3. Teori Sektor
Teori Sektor ini dikembangkan oleh Homer Hoyt pada tahun 1939. Dalam teori ini struktur ruang kota zona penggunaan lahan berkembang secara sektoral sebagai berikut :
            1. Kawasan pusat kota (CBD)
            2. Industri (factories)
            3. Perumahan kelas pekerja (working class housing)
            4. Perumahan masyarakat menengah (middle class housing)
            5. Perumahan masyarakat atas (upper class housing)


                  Gambar Teori Sektoral

https://www.gurugeografi.id/2017/03/struktur-kota-teori-sektor-homer-hoyt.html


     4. Teori Inti Berganda
Teori Inti Berganda ini dikembangkan oleh Harris dan Ullman pada tahun 1945. Struktur ruang kota memiliki zona penggunaan lahan berbentuk kelompok2 zona sebagai berikut :
    1. Kawasan pusat kota utama (primary CBD)
    2. Perdagangan grosir dan industri (wholesales and manufacturing)
    3. Perumahan masyarakat kelas rendah (low class homes)
    4. Perumahan masyarakat kelas menengah (middle class homes)
    5. Perumahan masyarakat kelas atas (upper class homes)
    6. Industri berat (heavy manufacturing)
    7. Kawasan pusat kota sekunder (CBD 2)
    8. Kawasan pinggiran kota (suburb)
    9. Industri di kawasan pinggiran

 

Gambar Teori Inti Berganda


 https://pangeography.com/multiple-nuclei-model-by-harris-and-ullman/ 


       5. Teori Ketinggian Bangunan
Teori Ketinggian Bangunan ini dikemukakan oleh Bergel pada tahun 1955. Pertimbangan utama teori ini adalah struktu ruang kota dicirikan oleh perbedaan ketinggian bangunan. Kawasan pusat kota ditandai dengan adanya bangunan tinggi, dan bergradasi hingga bangunan rendah di pinggirn kota.


                                  Gambar Teori Ketinggian Bangunan

https://slideplayer.info/slide/2489732/


    6. Teori Historis

Teori Historis ini dikembangkan oleh Alonso pada tahun 1964. Teori ini didasarkan Teorinya didasari atas nilai sejarah yang berkaitan dengan perubahan tempat tinggal penduduk di kota tersebut. Penduduk yang tinggal di pusat kota berpindah ke pinggir kota, dan penduduk yang tinggal di pinggir kota berpindah mendekati pusat kota.


                                                                Gambar Teori Historis

https://www.siswapedia.com/teori-tentang-struktur-ruang-kota/

    7. Teori Konsektoral (Eropa)
Teori ini dikemukakan oleh Peter Mann pada tahun 1965. Secara umum teri Konsektoral ini merupakan kombinasi dari Teori Konsentrik dan Teori Sektoral.
  

Gambar Teori Konsektoral (Eropa)

http://geoenviron.blogspot.com/2014/01/teori-struktur-tata-ruang-dan.html


5. Citra, Identitas dan Morfologi Kota

Citra Kota
Lynch dalam Suryani (2020) menyebutkan ada 5 elemen yang membentuk ciitra kota yaitu
    1. Path
    2. Edge
    3. Node
    4. District
    5. Landmark

Path (jalur) adalah elemen yang paling penting dalam citra kota. Path merupakan rute-rute sirkulasi yang biasanya digunakan orang untuk melakukan pergerakan.


                                                    Gambar Contoh Path

http://wikimapia.org/#lang=en&lat=-6.389939&lon=106.802902&z=14&m=w  


Edge (tepian) adalah elemen linear yang tidak dipakai/dilihat sebagai Path. Edge berada pada batas antara dua kawasan tertentu dan berfungsi sebagai pemutus linear, misalnya pantai, tembok, batasan antara lintasan kereta api, sungai, dan topografi.

                                                                   Gambar Contoh Edge

Sumber : Perda DKI No 1/2014 



Node (simpul) merupakan simpul atau lingkaran daerah strategis dimana arah atau aktivitasnya saling bertemu dan dapat diubah ke arah atau aktivitas yang lain, misalnya persimpangan lalu lintas, stasiun, lapangan terbang, pasar, taman, Square dan sebagainya.


                                                           Gambar Contoh Node

https://metro.sindonews.com/read/792469/171/menilik-sejarah-stasiun-gambir-1654689971


District (kawasan) merupakan kawasan-kawasan kota dalam skala dua dimensi. Sebuah kawasan / District memiliki ciri khas yang mirip (baik dalam hal bentuk, pola, dan wujudnya), dan khas pula dalam batasnya.



                                            Gambar Contoh District

Sumber : Perda DKI No 1/2014



Landmark (Tetenger) merupakan lambang dan simbol untuk menunjukkan suatu bagian kota, biasanya dapat berupa bangunan gapura batas kota (yang menunjukkan letak batas bagian kota), atau tugu kota.


                                          Gambar Contoh Landmark

https://voi.id/memori/13471/selamat-datang-patung-selamat-datang-kala-ibu-kota-memamerkan-keramahannya


Identitas Kota
Identitas Kota didefinisikan sebagai elemen alami dan buatan dari kota, karakteristik sosial, budaya dan sejarahnya. Di antara karakteristik ini, yang paling jelas dan mengesankan adalah identitas kota itu. Setiap fitur yang membedakan satu kota dari yang lain dan tampak berbeda dihitung sebagai komponen identitas kota tersebut. (Elif SAĞLIK dan Abdullah KELKİT, 2017).

unsur-unsur identitas kota terdiri atas :
  • Unsur identitas yang berasal dari alam lingkungan (nature) berupa kondisi topografi, iklim, elemen air, geologi dan umum lokasi.
  • Unsur identitas yang berasal dari lingkungan manusia (social) terdiri dari individu dan masyarakat. Ini juga dari sub elemen termasuk dalam struktur demografi, struktur kelembagaan dan struktur budaya.
  • Unsur identitas yang berasal dari lansekap buatan manusia (man made landscape), terdiri dari lingkungan buatan elemen, area tindakan yang timbul dari manusia yang sedang berlangsung kebutuhan di kota, dan benda-benda yang terbuat dari tangan manusia (Ocakçı dalam Elif SAĞLIK dan Abdullah KELKİT, 2017)
                                                Gambar Contoh Identitas Kota Unsur Alam

https://direktoripariwisata.id/unit/7039 




                      Gambar Contoh Identitas Kota Unsur Budaya Manusia

https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/other/malioboro/ 




                       Gambar Contoh Identitas Kota Unsur Buatan Manusia

https://investor.id/national/144213/jembatan-ampera-dan-musi-jadi-agenda-utama 


Morfologi Kota
Morfologi kota/perkotaan adalah 'studi bentuk perkotaan' dan memiliki kehadiran abadi dalam geografi manusia, serta disiplin serumpun lainnya. 

Morfologi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana setiap elemen satuan membangun sebuah kota, bagaimana sebuah individual project berkontribusi pada collective project (Loeckx dan Vermeulen dalam Syafi’I, 2020).

Smailes (dalam Acrydiena, 2013) menyebutkan bahwa unsur morfologi kota terdiri dari :
   - Unsur penggunaan lahan (land use)
   - Pola Jalan (street plan/layout)
   - Tipe bangunan (architectural style of building and their design)

                                                     Gambar Contoh Pola Jaringan Jalan

(Morlok,. 1984)



                                                    Gambar Contoh Pola Tata Guna Lahan

Perda DKI No. 1/2014



     Gambar Contoh Tipe Bangunan

https://www.visitpurbalingga.com/2021/05/wisata-kota-tua.html


Teori Figure Ground hubungan perbandingan lahan yang ditutupi bangunan sebagai massa yang padat (figure) dengan ruang-ruang (void-void) terbuka (ground). Secara khusus teori ini memfokuskan diri pada pemahaman pola, tekstur dan poche (tipologi-tipologi massa bangunan dan ruang tersebut) (Zahnd, 2000).
(http://zepointstudio.blogspot.com/2012/03/teori-figure-ground.html ).


                                        Gambar Contoh Tipe figure ground

https://www.researchgate.net/figure/Six-typological-patterns-of-solids-and-voids-Trancik-1986_fig3_328936431 


6. Permasalahan di Kota dan Perkotaan

Beberapa permasalahan di kota dan perkotaan yang menjadi isu pebangunan perkotaan  (Hidayat, 2019) antara lain :
    1. Kemiskinan
    2. Penyediaan perumahan
    3. Perkembangan fisik tidak terkendali
    4. Degradasi kualitas lingkungan hidup
    5. Urbanisasi
    6. Kemacetan

7. Peremajaan Lingkungan Kota

Menurut Danisworo (1988) ada beberapa cara peremajaajn lingkungan kota yang dilakukan untuk memperbaiki lingkungan kota yaitu :

1. Redevelopment adalah upaya penataan kembali suatu kawasan kota dengan terlebih dahulu melakukan pembongkaran sarana dan prasarana pada sebagian atau seluruh kawasan tersebut yang telah dinyatakan tidak dapat dipertahankan lagi kehadirannya.

2. Gentrifikasi merupakan upaya peningkatan vitalitas suatu kawasan kota melalui upaya peningkatan kualitas bangunan atau lingkungannya tanpa menimbulkan perubahan berarti terhadap struktur fisik kawasan tersebut.

3. Rehabilitasi merupakan upaya untuk mengembalikan kondisi suatu bangunan atau unsure-unsur kawasan kota yang telah mengalami kerusakan, kemunduran atau degradasi, sehingga dapat berfungsi kembali sebagaimana mestinya.

4. Preservasi merupakan upaya untuk memelihara dan melestarikan lingkungan pada kondisinya yang ada dan mencegah terjadinya proses kerusakannya.

5. Konservasi merupakan upaya untuk melestarikan, melindungi serta memanfaatkan sumber daya suatu tempat, seperti kawasan dengan kehidupan budaya dan tradisi yang mempunyai arti, kawasan dengan kepadatan penduduk yang ideal, cagar budaya, hutan lindung dan sebagainya.

6. Resettlement adalah proses pemindahan penduduk dari lokasi pemukiman yang sudah tidak sesuai dengan peruntukannya ke lokasi baru yang sudah disiapkan sesuai dengan rencana permukiman kota.
http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2013-2-00737-AR%20Bab2001.pdf

8. Tantangan Kota di Masa Depan

Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. SDGs berisi 17 tujuan dan 169 target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030. Butir kesepakatan SDG’s di bidang perkotaan adalah sebagai berikut :

   1.    Tanpa kemiskinan (no poverty
   2.    Tanpa kelaparan (zero hunger)
   3.    Kehidupan sehat dan sejahtera (good health and well being)
   4.    Pendidikan berkualitas (quality education)
   5.    Kesetaraan gender (gender equality)
   6.    Air bersih dan sanitasi layak (clean water and sanitation)
   7.    Enenji bersih dan terjangka (affordable and clean energy)
   8.    Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (decent work and economy growth)
   9.    Industri, inovasi dan infrastruktur (industry, Inovations, and Infrastructure)
 10.    Berkurangnya kesenjangan (reduce inequality)
 11.    Kota dan komunitas berkelanjutan (sustainable cities and communities)
 12.    Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (responsible consumption and production)
 13.    Penanganan perubahan iklim (climate action)
 14.    Ekosistem laut (life below water)
 15.    Ekosistem darat (life on land)
 16.    Perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh (peace, justice, and strong institution)   
 17.    Kemitraan untuk mencapai tujuan (partnership for the goals)
https://www.sdg2030indonesia.org/page/1-tujuan-sdg

Referensi :

  1. Bintarto., Surastopo S.H. (1977). Pengantar Geografi Kota. Yogyakarta: Yogyakarta Spring
  2. Branch, Melville C. (1995). Perencanaan Kota Komprehensif : Pengantar dan Penjelasan. Terjemahan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
  3. Elif Sağlik, Abdullah Kelkit (2017). Evaluation of Urban Identity and its Components in Landscape ArchitectureIJLAR.
  4. Fahmi, K. (2009). Pengembangan Kawasan Sudirman. Tesis: FT UI.
  5. Hidayat, Janthy T. (2019). Bahan Kuliah Etika Moral dan Teori Perencanaan, Magister Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Pakuan. Bogor
  6. https://perencanaankota.blogspot.com/2018/11/pengertian-kota-sosiologi-kota-dan.html diakses 10 Oktober 2022
  7. https://www.pinhome.id/blog/pengertian-kota-menurut-para-ahli-ciri-dan-potensinya /diakses 10 Oktober 2022
  8. https://dosengeografi.com/perkembangan-kota-menurut-lewis-mumford/ diakses 10 Oktober 2022.
  9. https://docplayer.info/68284524-Geografi-sesi-desa-kota-2-a-pengertian-kota-a-peraturan-menteri-dalam-negeri-ri-no-4-tahun-b-r-bintarto-b.html. Diakses 10 Oktober 2022
  10. https://www.slideshare.net/ShahnazAcrydiena1/morfologi-wilayah-kota diakses 10 Oktober 2022
  11. http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2013-2-00737-AR%20Bab2001.pdf diakses 10 Oktober 2022
  12. https://www.sdg2030indonesia.org/page/1-tujuan-sdg diakses 10 Oktober 2022
  13. https://dosengeografi.com/perkembangan-kota-menurut-lewis-mumford/ diakses 11 Oktober 2022
  14. http://geoenviron.blogspot.com/2014/01/teori-struktur-tata-ruang-dan.html. Diakses 12 Oktober 2022
  15. https://www.sciencedirect.com/topics/earth-and-planetary-sciences/urban-morphology
  16. https://www.slideshare.net/ShahnazAcrydiena1/morfologi-wilayah-kota. Diakses 11 Oktober 2022
  17. http://zepointstudio.blogspot.com/2012/03/teori-figure-ground.html Diakses 11 Oktober 2022
  18. http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2013-2-00737-AR%20Bab2001.pdf. Diakses 11 Oktober 2022
  19. https://www.sdg2030indonesia.org/page/1-tujuan-sdg. Diakses 12 Oktober 2022
  20. https://www.researchgate.net/figure/Six-typological-patterns-of-solids-and-voids-Trancik-1986_fig3_328936431. Diakses 11 Oktober 2022
  21. https://www.visitpurbalingga.com/2021/05/wisata-kota-tua.html. Diakses 12 oktober 2022
  22. https://voi.id/memori/13471/selamat-datang-patung-selamat-datang-kala-ibu-kota-memamerkan-keramahannya. Diakses 12 Oktober 2022
  23. http://wikimapia.org/#lang=en&lat=-6.389939&lon=106.802902&z=14&m=w Diakses 12 Oktober 2022
  24. https://direktoripariwisata.id/unit/7039 Diakses 12 Oktober 2022
  25. https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/other/malioboro/ Diakses 12 Oktober 2022
  26. https://investor.id/national/144213/jembatan-ampera-dan-musi-jadi-agenda-utama. Diakses 12 Oktober 2022
  27. https://www.siswapedia.com/teori-tentang-struktur-ruang-kota/ diakses 12 Oktober 2022
  28. https://pangeography.com/multiple-nuclei-model-by-harris-and-ullman/ diakses 12 Oktober 2022
  29. https://slideplayer.info/slide/2489732/ diakses 12 Oktober 2022
  30. https://www.seputargeografi.com/2021/12/perbedaan-3-teori-klasik-sturktur-ruang.html. Diakses 12 Oktober 2022
  31. Jayadinata, Johara.T.. (1999). Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Pedesaan. Perkotaan dan Wilayah. Bandung: Penerbit ITB.
  32. Morlok, Edward K. (1984). Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi. Jakarta: Erlangga
  33. Sekretariat Negara (2021). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang. Jakarta
  34. Sekretariat Daerah Provinsi DKI Jakarta (2014). Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2014 tentang Rencana Detail Tata Ruang
  35. Sirjamaki, John (1964). The Sociology of Cities. New York: Random House.
  36. Sitorus S.R.P. (2019). Penataan Ruang. Bogor: IPB Press
  37. Suparlan, Parsudi (2004). Masyarakat & Kebudayaan Perkotaan : Perspektif Antropologi Perkotaan. Jakarta: YPKIK.
  38. Suryani, AC (2020) Nilai-Nilai Budaya Lokal Sunda Dalam Identitas Kawasan Perkotaan Purwakarta. Tugas Akhir. Institut Teknologi Nasional.
  39. Sutriadi, Ridwan (2022). Peluang dan Tantangan Percepatan Digitalisasi Perencanaan Pembangunan dalam Revolusi Industri 4.0. Institut Teknologi Bandung
  40. Syafii, Muhammad (2020). Identifikasi Pola Morfologi Kota Tugas Akhir. Institut Teknologi Nasional. (Studi Kasus: Kecamatan Wonomulyo). (Skripsi). Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Hasanuddin, Makassar.
  41. Wahyudi, M. Agung (2006). Korelasi Tata Ruang Rumah Kuno Di Krajan Kulon Terhadap Tata Ruang Kota Kaliwungu. (Tesis). Program Pasca Sarjana, Universitas Diponegoro, Semarang. 














 











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penyusunan RDTR berbasis Mitigasi Bencana

Hengki Atmadji 1. Umum Bencana dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) maupun oleh ulah manusia (man-made disaster). Faktor-f...