Selasa, 11 Oktober 2022

Perencanaan Kota

 Hengki Atmadji


1. Pengertian Perencanaan Kota

Perencanaan kota berkaitan dengan pengembangan lahan terbuka ("situs greenfields") dan revitalisasi bagian kota yang ada, sehingga melibatkan penetapan tujuan, pengumpulan dan analisis data, peramalan, desain, pemikiran strategis, dan konsultasi publik. Semakin, teknologi sistem informasi geografis (SIG) telah digunakan untuk memetakan sistem perkotaan yang ada dan untuk memproyeksikan konsekuensi dari perubahan. (https://www.britannica.com/topic/urban-planning).

Perencanaan Kota adalah profesi yang berhubungan dengan penggunaan lahan spasial yang mempengaruhi aspek fisik, lingkungan, ekonomi dan sosial dari lingkungan perkotaan dan pedesaan. (https://worldurbanplanning.com/what-is-urban-planning/)

Perencanaan kota adalah proses teknis dan politik yang berkaitan dengan kontrol penggunaan lahan dan desain lingkungan perkotaan, termasuk jaringan transportasi, untuk membimbing dan memastikan pembangunan pemukiman dan masyarakat yang tertib. (https://www.definitions.net/definition/urban+planning)

Studi atau profesi yang berhubungan dengan pertumbuhan dan fungsi kota dan kota, termasuk masalah lingkungan, zonasi, infrastruktur, dll. (https://www.collinsdictionary.com/dictionary/english/urban-planning).

Secara teori, perencanaan kota adalah proses menguraikan solusi yang bertujuan baik untuk meningkatkan atau requalify kawasan perkotaan yang ada, serta untuk menciptakan urbanisasi baru di wilayah tertentu. Sebagai disiplin dan sebagai metode tindakan, perencanaan kota berkaitan dengan proses produksi, penataan, dan alokasi ruang kota. (https://www.archdaily.com/984049/what-is-urban-planning).

Perencanaan wilayah dan kota (regional and city planning) pada dasarnya adalah perencanaan yang ruang lingkupnya dilakukan berdasarkan skala spasial dimana aktivitas perencanaan tersebut dilakukan (Kustiwan, 2014).

Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk menentukan Struktur Ruang dan Pola Ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan Rencata Tata Ruang (PP No. 21 Tahun 2021).


2. Sejarah Perencanaan Kota

Kota-kota di dunia

Berdasarkan penelitian sejarah, diketahui bahwa peradaban manusia tertua di dunia diketemukan di wilayah yang secara geografis disebut Cresent Fertile (bulan sabit subur) di lembah Sungai Nil di Mesir, dan Mesopotamia (sekarang Irak) yang diapit Sungai Eufrat dan Sungai Tigris. Permukiman pertama yang berkembang diperkirakan berusia 4.000 SM, dengan jumlah penduduk 3.000-4.000 jiwa. permukiman terencana dengan baik berfokus pada bangunan yang dinamakan ziggurat setinggi 100 kaki yang terletak di tengah permukiman. Permukiman dikelilingi tembok benteng yang berfungsi untuk melindungi warganya dari musuh dan binantang buas (Catanese dan Snyder, 1984).

Gambar Ziggurat

10 kota tertua di dunia
   1.  Jericho (Israel) 10.000 SM
   2.  Biblos (Lebanon) 5.000 SM
   3.  Fayoum (Mesir) 7.200-5.200 SM
   4.  Sisa (Iran) 7.000-4.200 SM
   5.  Plovdiv (Bulgaria) 7.000 SM
   6.  Allepo (Suriah) 5.000-3.000 SM
   7.  Beirut (Lebanon) 5.000 SM
   8.  Athena (Yunani) 5.000 SM
   9.  Argos (Yunani) 5.000 SM
 10.  Sidon (Lebanon) 4.000 SM

(https://www.kompas.com/wiken/read/2022/04/23/074500681/10-kota-tertua-di-dunia)

Gambar Situs Megalitikum Gunung Padang
https://www.republika.co.id/berita/nagbrl/arkeolog-situs-gunung-padang-lebih-tua-dari-piramida-mesir 

Situs Megalitikum Gunung Padang di Desa Karyamukti Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur berdasarkan penelitian berumur +/- 10.000 SM. Untuk membangun situs Megalitikum yang besar ini diperkirkan membutuhkan  ribuan pekerja dalam kurun waktu yang panjang. Para pekerja diperkirakan bermukim di sekitar area  Situs Megalitikum Gunung Padang untuk mempersingkat waktu tempuh  dari tempat tinggal ke tempat mereka bekerja. Sehingga dengan demikian dapat diperkirakan bahwa area  di sekitar Gunung Padang kemungkinan besar juga merupakan salah satu situs  permukiman tertua di dunia. 


Kota-kota Nusantara (Jawa) Masa Hindu-Budha

Struktur pola ruang Wilawatikta (Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto-Jawa Timur saat ini) sebagai Ibukota Majapaht dibangun dengan konsep vastu shastra yaitu ilmu penataan kota dalam tradisi kuno India dalam konsep vastu shastra ini terdiri dari perempatan agung dan  catuspatha. Perempatan agung   adalah titik simpul pertemuan 4 jalan utama  (sumbu utara/selatan dan timur/barat). Sedangkan catuspatha adalah areal di sekitar perempatan agungPola ruang direncanakan dengan zonasi berdasarkan fungsinya yang berpusat pada catuspatha. yaitu (Marbun dan Tucunan, 2021):

1. Kraton di sudut barat daya
2. Wantilan/Alun-alun di sisi utara Kraton/sudut barat laut
3. Bangunan peribadatan/pura dan perumahan pejabat negara di sudut timur laut
4. Perumahan pejabat negara di sudut tenggara

Gambar Perempatan Agung dan Catuspatha Ibukota Majapahit

Di sekitar areal catuspatha, dapat diidentifikasi beberapa fungsi ruang utama, antara lain: (1) alun-alun; (2) istana (istana Kertawardana, Singawardhana, dan Hayam Wuruk); (3) panggung penjaga dan rumah abdi dalem; serta (4) balai agung manguntur, balai witana, dan lapangan watangan (Muljana dalam Hardy et al, 2016).

Dalam penelitiannya, Tribinuka (2014) mengungkapkan pola ruang kota di pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit sebagai berikut :
    1. Kraton
    2. Lapangan
    3. Tembok batu
    4. Permukiman rakyat
    5. Permukiman keluarga raja dan pejabat negara
    6. Saluran pertahanan
    7. Segaran

Sedangkan Marbun dan Tucunan (2021) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa elemen ruang pusat kota Majapahit terdiri dari :
    1. Dinding
    2. Gapura
    3. Lapangan umum
    4. Balai pertemuan umum
    5. Pasar
    6. Bangunan suci dan tempat sesaji
    7. Kraton
    8. Kepatihan
    9. kedharmayaksaan/tempat tinggal rohaniawan

           Gambar Pola Ruang Ibukota Majapahit

Trowulan di Kabupaten Mojokerto yang diyakini sebagai Wilwatikta ibukota Majapahit tersebut tedapat  simpang empat yang di sekitarnya berada kuta adhinarphati (tempat kraton berada), brahmasthana (pohon beringin besar), peken agung (pasar besar) dan lebuh (lapangan terbuka yang tidak ditempati bangunan tapi bukan alun-alun) (Wahyudi, 2006).



Gambar Struktur Wilwatikta Ibukota Majapahit


Kota-kota Nusantara (Jawa) Masa Islam


  • Demak

Sebagai  kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang didirikan pada tahun 1475, Demak masih banyak meninggalkan gagasan kota negara, walaupun kratonnya sudah tidak ada bekasnya sama sekali. Nama-nama kawasan seperti Kauman, Pecinan, Setinggil, Betengan, Sorogenen, dan Krapyak mengindikasikan bahwa di sekitarnya pada masa lalunya merupakan pusat kerajaan, bersama dengan alun-alun dan Masjid Agung. Kemungkinan struktur kota Demak merujuk pada ibukota Majapahit dalam skala yang lebih kecil, dengan adanya alun-alun sebagai pengikat Dalem/Kraton dan Masjid Agung (Wiryomartono dalam Wahyudi, 2006). 

Struktur pusat Kota Demak yang mengikuti pola pusat kota Majapahit, dengan sedikit perubahan, dimana penempatan bangunan peribadatan (Mesjid menghadap ke arah Kiblat), dan diletakkan di sebelah barat laut Alun-alun. Sedangkan bangunan Kraton diperkirakan tetap diletakkan di selatan Alun-alun. Sementara pasar berada agak jauh di sebelah utara alun-alun. Jadi konsep catuspatha tata kota dalam era Majapahit dimodifikasi di era tata kota Demak.   dimana elemen pusat kota terdiri dari  Mesjid, Alun-alun, Kraton (sudah tidak ada bekasnya), dan pasar  yang kemudian hari dikenal dengan konsep catur gatra tunggal. 

Konsep catur gatra tunggal kemungkinan besar diusulkan oleh Sunan Kalijaga yang berusaha mengembangkan tata kota yang bernafas Islami yang merupakan modifikasi dari catuspatha pada kota kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. 

Gambar Wilayah Negara Kerajaan Demak


  • Kotagede

Kota Gede (Kota Yogyakarta) dirintis oleh Ki Ageng Pemanahan sekitar tahun 1577 yang membuka hutan (babat alasMentaok berdasarkan piagam Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya sebagai ganjaran (hadiah) karena jasanya terhadap kerajaan. Setelah mendirikan pagar keliling (kitha dalem), wilayah didalamnya ditanami pohon buah-buahan dan mulai membangun masjid sekitar tahun 1587. Putra Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senopati kemudian menambahkan serambi dan melengkapi dengan Dalem setelah bertemu dengan Sunan Kalijaga. Kemudian tahun 1592-1593 rakyat mulai diperintahkan untuk membakar bata merah yang digunakan untuk membuat pagar keliling luar (kitha jaba) dengan sisi-sisi kurang lebih 5 km. Di sepanjang kitha jaba tersebut dibuat parit yang dulunya bisa dilayari (Wahyudi, 2006).

Gambar Denah Batas Wilayah Kotagede


Sebagai kerajaan Islam penerus Demak dan Pajang, Kerajaan Mataram dalam merencanakan dan membangun kota sebagai pusat kekuasaannya dengan menerapkan prinsip Islam. Morfologi kota bernafas Islam memiliki 8 (delapan) komponen (Shoud dalam Sakarov dan Faturrokhmah, 2018) yaitu :
   1. Mesjid utama
   2. Alun-alun
   3. suq/bazar
   4. citadel
   5. Permukiman
   6. Jaringan jalan
   7. Dinding kota
   8. exterior

Gambar Komponen Morfologi Kota bernafas Islami di Kotagede 

Dalam penataan struktur ruang di Kotagede komponen exterior dalam morfologi kota bernafas Islam berupa kompleks makam Senopaten yaitu makam para kerabat keluarga leluhur Kerajaan Mataram yang menyatu dengan halaman mesjid, sebagaimana juga terdapat di Mesjid Agung Demak dimana di belakangnya terdapat makam Raden Patah pendiri Kerajaan Demak. Di Makam Senopaten ini disemayamkan para leluhur Dinasti Mataram Islam, khususnya para raja beserta kerabat dekatnya. Mereka yang disemayamkan di makam ini diantaranya: Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan (Kanjeng Kyai Ageng Mentaram), Panembahan Sedo ing Krapak, Kanjeng Ratu Kalinyamat, Kanjeng Ratu Retno Dumilah, Nyai Ageng Nis, Kanjeng Nyai Ageng Mataram, Kangjeng Kyai  Juru Mertani, serta sejumlah tokoh lainnya (https://www.kompasiana.com/agusyr/54ffc9d2a333118f6850f96a/makam-leluhur-dinasti-mataram-islam-dan-masjid-besar-di-kotagede)

Gambar Daftar Nama Nisan di Makam Senopaten Kotagede

Kota tradisional Jawa adalah kota yang perencanaannya dilakukan oleh seorang penguasa tertinggi, yakni raja ataupun adipati. Pola tata kota tradisional Jawa dapat dikenali dengan melihat denah kota yang mempunyai ciri khas, yaitu di pusat kota terdapat keraton, alun-alun, bangunan-bangunan yang didirikan secara tradisional dan jalan-jalan yang berpotongan membentuk bujur sangkar (Tjandrasasmita dalam Suratno, 2003).

Hasil penelitian tentang Kotagede yang dilakukan menunjukkan bahwa nilai budaya masyarakat Kotagede terbentuk dari nilai-nilai kejawen dan Islam. Hal ini didasarkan pada konteks historis Kotagede sebagai pusat keraton Mataram dan susunan serta struktur kota tersendiri yang khas Jawa. Tata kota Kotagede disusun berdasarkan konsep moralitas jawa yang berisi keselarasan antara manusia dengan dirinya, alam semesta dan dengan dimensi transendental. Tata kota Kotagede yang masih ditandai dengan suatu susunan tata kota tradisional jawa, meskipun lokasi-lokasi yang ada sekarang sudah berubah fungsi, tidak seperti waktu pertama kali Kotagede didirikan (Charis dalam Suratno 2003).

Secara historis Kotagede disebut juga sebagai kota kejawen, yaitu kota dimana tidak pernah terjadi penyewaan tanah kepatuhan atau tanah kerajaan kepada pengusaha pertanian eropa. Dalam istilah yang lebih khusus Kotagede tidak pernah menjadi planda , dari kata walanda atau belanda. Kotagede yang didalamnya terdapat makam raja-raja Mataram, diyakini masih mempunyai sifat asli sebagai kota tradisional Jawa (Mook dalam Suratno, 2003).
Sekurang-kurangnya ada empat pusat kegiatan dalam pola tata kota tradisional jawa, juga terdapat di Kotagede (Charis dalam Suranto, 2003) yakni :
    1. keraton sebagai pusat kegiatan pemerintahan,
    2. masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan,
    3. pasar sebagai pusat kegiatan perekonomian dan,
    4. pemukiman sebagai tempat tinggal penduduk dan tempat bekerja.
Dalam pola tata kota tradisional jawa, pusat-pusat kegiatan tersebut diletakkan dalam tempat tertentu

Kawasan Kotagede kuno menggunakan konsep catur gatra tunggal yang merupakan konsep tata kota yang biasa ditemui di kota-kota yang memiliki karaton. Sejalan dengan apa yang pernah dikemukakan oleh Kostof beberapa dasa warsa yang lalu bahwa konsep semacam ini disebut juga dengan civic center, dimana kota secara spasial menjadi pusat berbagai kegiatan masyarakat. Konsep yang diterapkan di Kotagede ini memiliki 4 bangunan dan poin pokok dalam suatu kota, (Litiloly dan Ludwiarti 2021) yaitu :
    1. karaton sebagai tempat tinggal raja,
    2. pasar sebagai pusat perekonomian masyarakat,
    3. alun-alun sebagai ruang publik dan
    4. masjid sebagai tempat beribadah.
Keempat poin tersebut mencerminkan aspek-aspek yang ada dalam sebuah kota, yaitu politik, ekonomi, sosial, dan keagamaan.


Kotagede sebagai ibukota kerajaan menunjukkan struktur kota yang berciri organis (tidak teratur). Jaringan jalan yang tidak teratur (organis) merupakan ciri utama permukiman di daerah pedesaaan. Kondisi demikian berkaitan dengan Kotagede bukan sebagai ibu kota kerajaan, pada awalnya. Hal yang menunjukkan orientasi secara jelas hanyalah jalur jalan Utara/Selatan. Pasar terletak di sebelah selatan jalur jalan arah Timur/Barat, hal ini berbeda dengan kota Mataram lainnya. Komplek masjid (dengan makam, dan pemandian) terletak di sebelah barat kampung Alun alun sekarang. Letak kraton yang diperkirakan sebagai kampung Kedaton sekarang, berada di sebelah selatan alun alun. Sebelah barat pasar, tardapat komplek permukiman pedagang/pengrajin. Masyarakat Kotagede pada masa kerajaan, benyak yang berprofesi sebagai pengrajin. Masyarakat pengrajin tersebut banyak yang bermukim di sekitar Keraton (Junianto, 2017).


Gambar Struktur Ruang Kotagede

  • Kota Kabupaten

Pemerintah Kolonial Belanda kemudian membangun kota-kota kabupaten lainnya sebagai bekas kadipaten di zaman Mataram di Pulau Jawa tetap menerapkan sistem catur gatra tunggal dengan memodifikasi komponen pusat kotanya menjadi :

    1. Kadipaten (Kantor Bupati)
    2. Alun-alun
    3. Mesjid
    4. Pasar
    5. Penjara
    6. Menara Air (watertoren) opsional)

Catur gatra tunggal yang sudah dimodifikasi oleh Pemerintah Kolonial Belanda  ini dapat dilihat di kota ; Kendal, Purbalingga, Bondowoso,  Bojonegoro, Cianjur, Majalengka dan lainnya.

Gambar Struktur Ruang Pusat Kota Kendal


Kota-kota Nusantara Masa VOC (1602-1799)

Pada awal penjajahan Belnda, (awal abad 17) Belanda (VOC) membangun kota kota pelabuhan di Jawa (Jakarta, Semarang, Surabaya) dan beberapa kota di Indonesia lainnya menjadi kota perdagangan dan jasa untuk melayani kepentingan perdagangan rempah-rempah dari Nusantara ke kota-kota di Eropa. Kota didesain dengan menggunakan konsep tata ruang kota-kota di Belanda. kegiatan perdagangan dan jasa di kota cenderung berkembang di sekitar pelabuhan (haven) dalam batas tembok kota yang menyerupai dan dilengkapi dengan benteng pertahanan (fort).   

Gambar Peta Batavia (Jakarta) 1667

https://en.wikipedia.org/wiki/Batavia,_Dutch_East_Indies#/media/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Kaart_voorstellende_het_Kasteel_en_de_Stad_Batavia_in_het_jaar_1667_TMnr_496-2.jpg  


Gambar Peta Kota Semarang 1741

https://www.google.com/search?q=kaart+semarang+KITLV&tbm=isch&ved=2ahUKEwjImsPj-f_6AhXUKbcAHSs2DQgQ2-cCegQIABAA&oq=kaart+semarang+KITLV&gs_lcp=CgNpbWcQAzoECCMQJ1DqDVj_JGDpL2gAcAB4AIABwgGIAcIHkgEDOS4ymAEAoAEBqgELZ3dzLXdpei1pbWfAAQE&sclient=img&ei=5TtaY4iUF9TT3LUPq-y0QA&bih=625&biw=1366#imgrc=wj3mcfQsFy7GTM

Gambar Peta Kota Surabaya 1670

https://id.pinterest.com/pin/386394843022066591/ 

Kota-kota di Masa Pemerintahan Hindia Belanda (gouvernemenst bestuur) (1800-1903)

Dengan dibudarkannya VOC (1799), maka mulai tahun 1800, Nusantara resmi menjadi negeri jajahan Negeri Belanda dengan nama Hindia Belanda (Nederland Indie). beberapa kota besar semakin berkembang sebagai kota perdagangan, yang ditandai dengan banyaknya perusahaan-perusahaan particuliere (swasta) Belanda yang mengekploitasi hasil kekayaan alam di sektor perkebunan, pertambangan yang didukung oleh perusahaan yang bergerak di sektor transportasi (pelayaran, dan kereta api). Beberapa kota di Pulau Jawa dan Sumatera dihubungkan dengan jalur kereta api (Jalur KA pertama menghubungkan Stasiun Samarang/Kemijen-Tanggung 1867) yang digunakan untuk memudahkan transportasi hasil bumi dari kantong-kantong produksi menuju pelabuhan untuk diekspor. Kereta api pada awalnya didesain untuk melayani angkutan barang, namun lambat laun juga melayani angkutan penumpang. Stasiun kereta api dibangun oleh perusahaan-perusahaan kereta api (misalnya NISM, SS, SCS, SDS, SJS dan sebagainya) menjadi salah satu penanda perkembangan fisik dan arsitektur perkotaan.


Gambar Peta Surabaya 1866

https://www.pinterest.com/pin/340092209353990074/ 

Kota-kota Hindia Belanda masa Gemeente 1903-1945

Pemikiran tentang penataan ruang di Indonesia timbul pada awal abad XX dan merupakan hasil perubahan administrasi yang ditetapkan dalam Undang-undang Desentralisasi (Oecentralisatiewet). Undang-undang yang ditetapkan pemerintah pada 1903 ini mengenalkan klasifikasi administrasi baru yang mengakhiri administrasi pusat yang terlalu berkuasa di Batavia. Hal ini membuka jalan untuk diberlakukan Ordonansi Dewan Lokal (Locale Radenordonnantie) yang menetapkan peraturan bagi pembentukan pemerintahan lokal. Pemerintah lokal atau kotamadya (gementeen) inilah yang akan menangani pengembangan dan perencanaan wilayah lokal. Langkah ini merupakan langkah awal menuju penataan ruang (PUPR 2003).

  • Semarang
Nieuw Tjandi 1907-1917

Pada 1907, W.T. de Vogel, seorang dokter dan anggota dewan kota Semarang, meminta K.P.C. de Bazel seorang arsitek yang berdomisili di Belanda, membuat sketsa awal untuk rencana perluasan daerah berbukit di selatan Semarang. Beberapa waktu kemudian, dewan kota secara resmi meminta Herman Thomas Karsten (1884-1945), seorang arsitek yang bekerja sebagai manajer perkantoran di kantor arsitektur Henri Maclaine di Semarang, untuk mengajukan rancangan wilayah ini. Karsten menerimanya dan pada 1917 mengajukan rencana Candi Baru (NieuwTjandi), suatu perluasan yang dirancang untuk mengakomodasi semua kelompok etnis sesuai dengan kebiasaan masing-masing (PUPR, 2003).

Pola ruang kawasan Nieuw Tjandi ini terdiri dari:
   1. Rumah kepadatan tinggi (aaneengesloten bebouwing)
   2. Rumah bangsa Eropa (europeesche open bebouwing)
   3. Rumah kampung (kampong bebouwing)
   4. Kampung yang tersebar (verspreide kampong)
   5. Area tidak dapat dibangun (onbeboubaar terrein)
   6. Ruang terbuka hijau (plantsoen of open grasvelden)
Selain itu juga dilengkapi dengan ; rumah walikota dan otoritas penting lainnya, pasar, panggung pertunjukan, kubah pengintai, pos polisi dan tugu kecil (Roosmalen, 2008).

Candi Baru adalah salah satu kawasan yang dirancang Karsten untuk masyarakat kelas ekonomi menengah ke-atas. Dalam perencanaan pembangunan kawasan Candi Baru Semarang pada 1920, ada tiga elemen yang menjadi pertimbangan Karsten. Mulai dari perincian sistem jalan, taman kota, daya tarik dan vegetasi. Selain itu, Karsten juga memerinci pembangunan drainase, tempat pembuangan limbah, jarak dengan bandara, pelabuhan dan masih banyak lagi. Lalu ada tata kota, yang mencakup pada karakter bangunan dan juga pemandangan yang menjadi nilai estetis. Kemudian yang terakhir ada perencanaan kota keseluruhan. Di mana pertimbangan ini menggabungkan semua elemen hingga membentuk satu kesatuan dan juga menunjukan adanya indikasi kemajuan masa depan dan perkembangan kota.
Perencanaan kota di masa itu masih sangat sederhana. Perencanaan di atas peta hanya rencana jalan, yang ditandai dengan garis putus-putus. Rencana penggunaan lahannya kemungkinan besar untuk peruntukan perumahan, mengingat Gemeente menyadari bahwa  perumahan di pusat kota semakin meningkat kepadatannya, sehingga diperlukan  pengembangan kawasan perumahan baru.

Gambar Rencana Nieuw Tjandi 1907-1917

Peterongan-Pekoenden-Batan

Pada tahun 1916 Gemeente Semarang membuat sketsa awal perencanaan kota  di Kawasan Pekunden (sekarang kawasan Mugassari, Pleburan, Pekunden, Miroto, Gabahan, Brumbung dan Karangkidul),  yang kondisinya masih berupa persawahan. maupun kawasan Peterongan dan sebelah timurnya (sekarang kawasan Peterongan, Lamper Lor dan Lamper Kidul)_. Namun pada tahun 1935, kawasan Mugassari, Pleburan, Pekunden dan Karangkidul  belum terlihat pembangunan fisiknya

Perintah yang diterima Karsten dari Oei dan Be pada tahun 1916 untuk membangun Peterongan dan Pekunden-Batan untuk merancang rencana kota, kurang lebih membentuk satu kesatuan dengan rencana perluasan Nieuw Tjandi. Rencananya Peterongan dan Pekoenden-Batan dibagi menjadi tiga segmen. 

Gambar Rencana Kawasan Pekoenden 1916

Gambar Rencana kawasan Peterongan en Oost 1916

Adapun gedung yang dibangun sebagai fasilitas penunjang kota kolonial meliputi: schouwburg (gedung pertunjukan), societeit (balai pertemuan), watertoren (gedung menara air), bioscoop (Bioskop), boulevard (alun-alun kota), volkhuisvesting (perumahan rakyat), dan rumah ibadah (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjambi/arsitektur-dan-tata-kota-masa-kolonial/)

Mlaten 1925

Kampung Mlaten dengan batas sebelah utara saluran air, sebelah timur banjir kanal, sebelah selatan Boeganganweg, sebelah barat Mlati Tiangwi seluas 16 Ha dirancang oleh Thomas Karsten 1925. dan dikembangkan oleh NV Volkshuisvesting (Roosmalen, 2008). Berdasarkan informasi peta Semarang tahun 1935, sebagian besar lahan yang terletak di selatan Tjitaroemlaan belum ada perkembangan fisik yang signifikans.

Gambar Rencana Kampung Mlaten, Semarang 1925


  • Surabaya 

Di Surabaya, pada 1909 dewan membebaskan lahan yang luas di Gubeng untuk lingkungan Eropa baru. Tujuh tahun kemudian membeli lahan di Ketapang dan Ngagel untuk keperluan yang sama (PUPR, 2003).

Gambar Rencana Kawasan Darmo  Surabaya 1914-1930

  • Jakarta
Arsip tentang perencanaan kota di Jakarta (Batavia) yang terdokumentasi adalah sketsa desain district Sentong-Goenoengsari (sekarang Kelurahan Karanganyar dan Kartini Kec. Sawah Besar-Jakarta Pusat). dari Stadgemmente Batavia pada tahun 1916. Apakah sketsa desain ini dibuat oleh Berlage (seorang arsitek Belanda)? (Roosmalen, 2008) . 

https://www.researchgate.net/publication/282817401_Ontwerpen_aan_de_stad_Stedenbouw_in_Nederlands-Indie_en_Indonesie_1905-1950 

Gambar Sketsa Rencana Kota Kawasan Sentong-Gunungsari

Perluasan kota untuk memenuhi kebutuhan rumah di Batavia dimulai tahun 1910 dengan membuka kawasan baru Nieuw Gondangdia dan Menteng. diawali dengan pembelian tanah partikelir pada tahun 1908. Untuk mempertimbangkan potensi Menteng-Nieuw Gondangdia sebagai kabupaten pemekaran, dewan kota menunjuk sebuah komite. Anggota komite itu adalah anggota dewan kota J.H.W. Adèr dan Schüller dan arsitek P.A.J. Moojen. Komite mnegajukan sketsa rencana jalan dan bangunan ke dewan kota pada tahun 1910. 
Rencana struktur ruang kota dibentuk oleh boulevard selebar 25 meter membentuk huruf U yang mengarah utara dan selatan. Sementara untuk akases timur dan barat direncanakan Nassau Boulevard (Jl. Imam Bonjol) dan Oranje Boulevard (Jl. Diponegoro). di lokasi pertemuan antara Nassau Boulevard dan Oranje Boulevard yang terletak di tengah  huruf U terdapat direncanakan taman. Gondandiaweg di sisi timur maupun Tamarindelaan (Jl. K.H. Wahid Hasyim) di sisi utara yang merupakan jalan eksisting. Rencana awal Moojen beberapa kali mengalami perubahan, terutama menyesuaiakn dengan rencana Ir. Van Breen untuk mengatasi drainase dengan dibangunnya Banjirkanal di sisi selatan Menteng. Pembangunan Menteng dan Nieuw Gondangdia dilaksanakan oleh N.V. Bouwploeg. yang berkantor di gedung yang sekarang menjadi Mesjid Cut Mutia.
Pada tahun 1922 Ir. F.J. Kubatz resmi menggantikan P.A.J Moojen untuk menyempurnakan rencana yang dibuat oleh Moojen. Kubats membuat perubahan pada rencana sebelumnya dengan melakukan pelurusan Kali Cideng (Roosmalen, 2008)


Gambar Rencana Kawasan Menteng dan Gondangdia Baru 1919-1923

  • Bandung

Dewan kota Bandung mulai pertengahan 1910-an memperluas wilayahnya. Perusahaan pengembang dan pembangunan lokal didirikan. Pada 1917, Biro lnsinyur dan Arsitek (Aigemeen lngenieurs en Architectenbureau - AlA) mengajukan rencana perluasan untuk bagian utara kota (PUPR 2003)


Secara umum Pemerintah kolonial Belanda melakukan segregasi sosial dalam penataan Kota Bandung. Wilayah sebelah utara jalur KA dirancang untuk dihuni oleh masyarakat belanda/eropa timur asing. Sedangkan sebelah selatan jalur KA ditempati oleh warga pribumi. Sehingga penataan ruang Kota Bandung di era kolonial lebih cenderung dilakukan di sebelah utara jalur KA. 

Pada 1916 Gubernur Jenderal J.P. Limburg Stirum menyatakan bahwa semua departemen yang tidak berkaitan dengan kota pesisir harus pindah ke Bandung (Roosmalen, 2008)


Gambar Konsep Pengembangan kota Bandung 1917


Gambar Peta Rencna Kota Bandung

Gambar Rencana Kota Bandung 1933 (Thomas Karsten)


  • Medan

Kampung Untuk memenuhi kebutuhan yang paling tidak kaya pertama-tama, anggota dewan H.A.Pada pertengahan 1920-an, Wakker mengajukan proposal untuk membuat empat lingkungan untuk rumah kecil dan kampung yaitu :
  • Kp. Sekip
  • Kp. Sidodadi
  • Kp. Padang Loemba
  • Kp. Djati Oeloe
Gambar Jaringan jalan dengan indikasi proyek perumahan Kota Medan 1923



Gambar Rencana Kampung Sekip 1923

Gambar Rencana Kp. Sidodadi Kota Medan 1923


Padang Loemba


Gambar Rencana Kap. Djati Oeloe Kota Medan 1923







Rencana Kawasan Padang Loemba 1923

  • Malang

Dalam catatannya pada tahun 1920; Karsten mengatakan bahwa layout suatu kota terdiri dari 3 elemen yaitu (1) detail, (2) townscape dan (3) perencanaan total; dimana ketiga elemen tersebut harus saling berhubungan (Suryorini, 2010).

Bagi Karsten yang terpenting dalam pembangunan kota adalah Totalbeeld yang merupakan suatu kesan umum dari kota sebagai suatu kesatuan dengan berbagai golongan penduduk, ekonomi, kultur, dan social yang hidup bersama dengan penuh keserasian. Pembagian rumah berdasarkan ras yang telah menjadi kebiasaan di Hindia Belanda, tidak diikuti oleh Karsten. Zonering (zonasi) dari tipe rumah dan rumah tinggal berdasarkan kelas sosial merupakan ciri dari perencanaan kota Karsten. Meskipun Karsten pada tahun 1917 belum menjadi penasihat perencana kota Malang secara resmi, tapi dia sudah diminta bantuan pemikirannya mengingat pada waktu itu Karsten merupakan satu-satunya orang yang dipandang ahli dalam merencanakan kota. Perencanaan kota Malang oleh Karsten dibagi menjadi lingkungan-lingkungan dengan tujuan tertentu, yaitu untuk bangunan gedung, jalan, penghijauan dan daerah pertanian (Suryorini, 2010).

Gambar Peta Kota Malang


Gambar Rencana Penggunaan Lahan


Kota-kota Indonesia Masa Kemerdekaan


Kebayoran Baru 1948

Palangkaraya 1957

Rencana Induk DCI Djakarta 1965-1985

Depok 1976

BSD 1989

Kota Parahyangan 2002

Kota Kekerabatan Maja dan Citra Maja Raya

IKN 2017


Referensi :


  1. Catanese, Anthony J., Snyder James C. (1984). Pengantar Perencanaan Kota. (Terjemahan). Jakarta: Erlangga.
  2. https://www.britannica.com/topic/urban-planning diakses 11 Oktober 2022
  3. https://worldurbanplanning.com/what-is-urban-planning/ diakses 11 Oktober 2022
  4. https://www.definitions.net/definition/urban+planning. Diakses 11 Oktober 2022
  5. https://www.collinsdictionary.com/dictionary/english/urban-planning. Diakses 11 Oktober 2022
  6. https://www.archdaily.com/984049/what-is-urban-planning. Diakses 11 Oktober 202
  7. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjambi/arsitektur-dan-tata-kota-masa-kolonial. Diakses 17 Oktober 2022.
  8. Junianto (2017) Konsep Mancapat-Mancalima Dalam Struktur Kota Kerajaan Mataram Islam Periode Kerajaan Pajang Sampai Dengan Surakarta. Seminar Nasional Space #3 Membingkai Multikultur Dalam Kearifan Lokal Melalui Perencanaan Wilayah Dan Kota  
  9. Kustiwan, Iwan (2014). Pengantar Perencanaan Wilayah dan Kota. Modul Kuliah Universitas Terbuka
  10. Sakarov, O.D., Faturrohmah, S. (2018).  Identifikasi Aspek-Aspek Tata Ruang Islami Pada Kawasan Cagar Budaya Kotagede Yogyakarta. Prosiding Nasional Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi XIII Tahun 2018 (ReTII)
  11. Sekretariat Negara (2021). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang. Jakarta.
  12. Tribinuka, Tj. (2014). Rekonstruksi Arsitektur Kerajaan Majapahit dari Relief, Artefak dan Situs Bersejarah. Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2014
  13. Wahyudi, M. A. (2006). Korelasi Tata Ruang Rumah Kuno Di Krajan Kulon Terhadap Tata Ruang Kota Kaliwungu. (Tesis). Program Pasca Sarjana, Universitas Diponegoro, Semarang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penyusunan RDTR berbasis Mitigasi Bencana

Hengki Atmadji 1. Umum Bencana dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) maupun oleh ulah manusia (man-made disaster). Faktor-f...