Hengki Atmadji
1. Pengertian Perencanaan Kota
Perencanaan kota berkaitan dengan pengembangan lahan terbuka ("situs greenfields") dan revitalisasi bagian kota yang ada, sehingga melibatkan penetapan tujuan, pengumpulan dan analisis data, peramalan, desain, pemikiran strategis, dan konsultasi publik. Semakin, teknologi sistem informasi geografis (SIG) telah digunakan untuk memetakan sistem perkotaan yang ada dan untuk memproyeksikan konsekuensi dari perubahan. (https://www.britannica.com/topic/urban-planning).
Perencanaan Kota adalah profesi yang berhubungan dengan penggunaan lahan spasial yang mempengaruhi aspek fisik, lingkungan, ekonomi dan sosial dari lingkungan perkotaan dan pedesaan. (https://worldurbanplanning.com/what-is-urban-planning/)
Perencanaan kota adalah proses teknis dan politik yang berkaitan dengan kontrol penggunaan lahan dan desain lingkungan perkotaan, termasuk jaringan transportasi, untuk membimbing dan memastikan pembangunan pemukiman dan masyarakat yang tertib. (https://www.definitions.net/definition/urban+planning)
Studi atau profesi yang berhubungan dengan pertumbuhan dan fungsi kota dan kota, termasuk masalah lingkungan, zonasi, infrastruktur, dll. (https://www.collinsdictionary.com/dictionary/english/urban-planning).
Secara teori, perencanaan kota adalah proses menguraikan solusi yang bertujuan baik untuk meningkatkan atau requalify kawasan perkotaan yang ada, serta untuk menciptakan urbanisasi baru di wilayah tertentu. Sebagai disiplin dan sebagai metode tindakan, perencanaan kota berkaitan dengan proses produksi, penataan, dan alokasi ruang kota. (https://www.archdaily.com/984049/what-is-urban-planning).
Perencanaan wilayah dan kota (regional and city planning) pada dasarnya adalah perencanaan yang ruang lingkupnya dilakukan berdasarkan skala spasial dimana aktivitas perencanaan tersebut dilakukan (Kustiwan, 2014).
2. Sejarah Perencanaan Kota
Kota-kota di dunia
Berdasarkan penelitian sejarah, diketahui bahwa peradaban manusia tertua di dunia diketemukan di wilayah yang secara geografis disebut Cresent Fertile (bulan sabit subur) di lembah Sungai Nil di Mesir, dan Mesopotamia (sekarang Irak) yang diapit Sungai Eufrat dan Sungai Tigris. Permukiman pertama yang berkembang diperkirakan berusia 4.000 SM, dengan jumlah penduduk 3.000-4.000 jiwa. permukiman terencana dengan baik berfokus pada bangunan yang dinamakan ziggurat setinggi 100 kaki yang terletak di tengah permukiman. Permukiman dikelilingi tembok benteng yang berfungsi untuk melindungi warganya dari musuh dan binantang buas (Catanese dan Snyder, 1984).
10 kota tertua di dunia
1. Jericho (Israel) 10.000 SM
2. Biblos (Lebanon) 5.000 SM
3. Fayoum (Mesir) 7.200-5.200 SM
4. Sisa (Iran) 7.000-4.200 SM
5. Plovdiv (Bulgaria) 7.000 SM
6. Allepo (Suriah) 5.000-3.000 SM
7. Beirut (Lebanon) 5.000 SM
8. Athena (Yunani) 5.000 SM
9. Argos (Yunani) 5.000 SM
10. Sidon (Lebanon) 4.000 SM
(https://www.kompas.com/wiken/read/2022/04/23/074500681/10-kota-tertua-di-dunia)
Situs Megalitikum Gunung Padang di Desa Karyamukti Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur berdasarkan penelitian berumur +/- 10.000 SM. Untuk membangun situs Megalitikum yang besar ini diperkirkan membutuhkan ribuan pekerja dalam kurun waktu yang panjang. Para pekerja diperkirakan bermukim di sekitar area Situs Megalitikum Gunung Padang untuk mempersingkat waktu tempuh dari tempat tinggal ke tempat mereka bekerja. Sehingga dengan demikian dapat diperkirakan bahwa area di sekitar Gunung Padang kemungkinan besar juga merupakan salah satu situs permukiman tertua di dunia.
Kota-kota Nusantara (Jawa) Masa Hindu-Budha
Struktur pola ruang Wilawatikta (Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto-Jawa Timur saat ini) sebagai Ibukota Majapaht dibangun dengan konsep vastu shastra yaitu ilmu penataan kota dalam tradisi kuno India. dalam konsep vastu shastra ini terdiri dari perempatan agung dan catuspatha. Perempatan agung adalah titik simpul pertemuan 4 jalan utama (sumbu utara/selatan dan timur/barat). Sedangkan catuspatha adalah areal di sekitar perempatan agung. Pola ruang direncanakan dengan zonasi berdasarkan fungsinya yang berpusat pada catuspatha. yaitu (Marbun dan Tucunan, 2021):
1. Kraton di sudut barat daya
2. Wantilan/Alun-alun di sisi utara Kraton/sudut barat laut
3. Bangunan peribadatan/pura dan perumahan pejabat negara di sudut timur laut
4. Perumahan pejabat negara di sudut tenggara
Di sekitar areal catuspatha, dapat diidentifikasi beberapa fungsi ruang utama, antara lain: (1) alun-alun; (2) istana (istana Kertawardana, Singawardhana, dan Hayam Wuruk); (3) panggung penjaga dan rumah abdi dalem; serta (4) balai agung manguntur, balai witana, dan lapangan watangan (Muljana dalam Hardy et al, 2016).
Dalam penelitiannya, Tribinuka (2014) mengungkapkan pola ruang kota di pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit sebagai berikut :
1. Kraton
2. Lapangan
3. Tembok batu
4. Permukiman rakyat
5. Permukiman keluarga raja dan pejabat negara
6. Saluran pertahanan
7. Segaran
Sedangkan Marbun dan Tucunan (2021) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa elemen ruang pusat kota Majapahit terdiri dari :
1. Dinding
2. Gapura
3. Lapangan umum
4. Balai pertemuan umum
5. Pasar
6. Bangunan suci dan tempat sesaji
7. Kraton
8. Kepatihan
9. kedharmayaksaan/tempat tinggal rohaniawan
Trowulan di Kabupaten Mojokerto yang diyakini sebagai Wilwatikta ibukota Majapahit tersebut tedapat simpang empat yang di sekitarnya berada kuta adhinarphati (tempat kraton berada), brahmasthana (pohon beringin besar), peken agung (pasar besar) dan lebuh (lapangan terbuka yang tidak ditempati bangunan tapi bukan alun-alun) (Wahyudi, 2006).

Kota-kota Nusantara (Jawa) Masa Islam
Demak
Sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang didirikan pada tahun 1475, Demak masih banyak
meninggalkan gagasan kota negara, walaupun kratonnya sudah tidak ada bekasnya sama sekali. Nama-nama
kawasan seperti Kauman, Pecinan, Setinggil, Betengan, Sorogenen, dan Krapyak mengindikasikan bahwa di sekitarnya pada masa lalunya merupakan pusat kerajaan,
bersama dengan alun-alun dan Masjid Agung. Kemungkinan struktur kota Demak
merujuk pada ibukota Majapahit dalam skala yang lebih kecil, dengan adanya alun-alun
sebagai pengikat Dalem/Kraton
dan Masjid Agung (Wiryomartono dalam Wahyudi, 2006).
Struktur pusat Kota Demak yang mengikuti pola pusat kota Majapahit, dengan sedikit perubahan, dimana penempatan bangunan peribadatan (Mesjid menghadap ke arah Kiblat), dan diletakkan di sebelah barat laut Alun-alun. Sedangkan bangunan Kraton diperkirakan tetap diletakkan di selatan Alun-alun. Sementara pasar berada agak jauh di sebelah utara alun-alun. Jadi konsep catuspatha tata kota dalam era Majapahit dimodifikasi di era tata kota Demak. dimana elemen pusat kota terdiri dari Mesjid, Alun-alun, Kraton (sudah tidak ada bekasnya), dan pasar yang kemudian hari dikenal dengan konsep catur gatra tunggal.
Konsep catur gatra tunggal kemungkinan besar diusulkan oleh Sunan Kalijaga yang berusaha mengembangkan tata kota yang bernafas Islami yang merupakan modifikasi dari catuspatha pada kota kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.
Gambar Wilayah Negara Kerajaan Demak
Sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang didirikan pada tahun 1475, Demak masih banyak meninggalkan gagasan kota negara, walaupun kratonnya sudah tidak ada bekasnya sama sekali. Nama-nama kawasan seperti Kauman, Pecinan, Setinggil, Betengan, Sorogenen, dan Krapyak mengindikasikan bahwa di sekitarnya pada masa lalunya merupakan pusat kerajaan, bersama dengan alun-alun dan Masjid Agung. Kemungkinan struktur kota Demak merujuk pada ibukota Majapahit dalam skala yang lebih kecil, dengan adanya alun-alun sebagai pengikat Dalem/Kraton dan Masjid Agung (Wiryomartono dalam Wahyudi, 2006).
Struktur pusat Kota Demak yang mengikuti pola pusat kota Majapahit, dengan sedikit perubahan, dimana penempatan bangunan peribadatan (Mesjid menghadap ke arah Kiblat), dan diletakkan di sebelah barat laut Alun-alun. Sedangkan bangunan Kraton diperkirakan tetap diletakkan di selatan Alun-alun. Sementara pasar berada agak jauh di sebelah utara alun-alun. Jadi konsep catuspatha tata kota dalam era Majapahit dimodifikasi di era tata kota Demak. dimana elemen pusat kota terdiri dari Mesjid, Alun-alun, Kraton (sudah tidak ada bekasnya), dan pasar yang kemudian hari dikenal dengan konsep catur gatra tunggal.
Konsep catur gatra tunggal kemungkinan besar diusulkan oleh Sunan Kalijaga yang berusaha mengembangkan tata kota yang bernafas Islami yang merupakan modifikasi dari catuspatha pada kota kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.
Kotagede
Kota Gede (Kota Yogyakarta) dirintis oleh Ki Ageng Pemanahan sekitar tahun 1577 yang membuka hutan (babat alas) Mentaok berdasarkan piagam Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya sebagai ganjaran (hadiah) karena jasanya terhadap kerajaan. Setelah mendirikan pagar keliling (kitha dalem), wilayah didalamnya ditanami pohon buah-buahan dan mulai membangun masjid sekitar tahun 1587. Putra Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senopati kemudian menambahkan serambi dan melengkapi dengan Dalem setelah bertemu dengan Sunan Kalijaga. Kemudian tahun 1592-1593 rakyat mulai diperintahkan untuk membakar bata merah yang digunakan untuk membuat pagar keliling luar (kitha jaba) dengan sisi-sisi kurang lebih 5 km. Di sepanjang kitha jaba tersebut dibuat parit yang dulunya bisa dilayari (Wahyudi, 2006).
Sebagai kerajaan Islam penerus Demak dan Pajang, Kerajaan Mataram dalam merencanakan dan membangun kota sebagai pusat kekuasaannya dengan menerapkan prinsip Islam. Morfologi kota bernafas Islam memiliki 8 (delapan) komponen (Shoud dalam Sakarov dan Faturrokhmah, 2018) yaitu :
1. Mesjid utama
2. Alun-alun
3. suq/bazar
4. citadel
5. Permukiman
6. Jaringan jalan
7. Dinding kota
8. exterior
Gambar Komponen Morfologi Kota bernafas Islami di Kotagede
Dalam penataan struktur ruang di Kotagede komponen exterior dalam morfologi kota bernafas Islam berupa kompleks makam Senopaten yaitu makam para kerabat keluarga leluhur Kerajaan Mataram yang menyatu dengan halaman mesjid, sebagaimana juga terdapat di Mesjid Agung Demak dimana di belakangnya terdapat makam Raden Patah pendiri Kerajaan Demak. Di Makam Senopaten ini disemayamkan para leluhur Dinasti Mataram Islam, khususnya para raja beserta kerabat dekatnya. Mereka yang disemayamkan di makam ini diantaranya: Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan (Kanjeng Kyai Ageng Mentaram), Panembahan Sedo ing Krapak, Kanjeng Ratu Kalinyamat, Kanjeng Ratu Retno Dumilah, Nyai Ageng Nis, Kanjeng Nyai Ageng Mataram, Kangjeng Kyai Juru Mertani, serta sejumlah tokoh lainnya (https://www.kompasiana.com/agusyr/54ffc9d2a333118f6850f96a/makam-leluhur-dinasti-mataram-islam-dan-masjid-besar-di-kotagede)
Gambar Daftar Nama Nisan di Makam Senopaten Kotagede
Dalam penataan struktur ruang di Kotagede komponen exterior dalam morfologi kota bernafas Islam berupa kompleks makam Senopaten yaitu makam para kerabat keluarga leluhur Kerajaan Mataram yang menyatu dengan halaman mesjid, sebagaimana juga terdapat di Mesjid Agung Demak dimana di belakangnya terdapat makam Raden Patah pendiri Kerajaan Demak. Di Makam Senopaten ini disemayamkan para leluhur Dinasti Mataram Islam, khususnya para raja beserta kerabat dekatnya. Mereka yang disemayamkan di makam ini diantaranya: Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan (Kanjeng Kyai Ageng Mentaram), Panembahan Sedo ing Krapak, Kanjeng Ratu Kalinyamat, Kanjeng Ratu Retno Dumilah, Nyai Ageng Nis, Kanjeng Nyai Ageng Mataram, Kangjeng Kyai Juru Mertani, serta sejumlah tokoh lainnya (https://www.kompasiana.com/agusyr/54ffc9d2a333118f6850f96a/makam-leluhur-dinasti-mataram-islam-dan-masjid-besar-di-kotagede)
Kota tradisional Jawa adalah kota yang perencanaannya dilakukan oleh seorang penguasa tertinggi, yakni raja ataupun adipati. Pola tata kota tradisional Jawa dapat dikenali dengan melihat denah kota yang mempunyai ciri khas, yaitu di pusat kota terdapat keraton, alun-alun, bangunan-bangunan yang didirikan secara tradisional dan jalan-jalan yang berpotongan membentuk bujur sangkar (Tjandrasasmita dalam Suratno, 2003).
Hasil penelitian tentang Kotagede yang dilakukan menunjukkan bahwa nilai budaya masyarakat Kotagede terbentuk dari nilai-nilai kejawen dan Islam. Hal ini didasarkan pada konteks historis Kotagede sebagai pusat keraton Mataram dan susunan serta struktur kota tersendiri yang khas Jawa. Tata kota Kotagede disusun berdasarkan konsep moralitas jawa yang berisi keselarasan antara manusia dengan dirinya, alam semesta dan dengan dimensi transendental. Tata kota Kotagede yang masih ditandai dengan suatu susunan tata kota tradisional jawa, meskipun lokasi-lokasi yang ada sekarang sudah berubah fungsi, tidak seperti waktu pertama kali Kotagede didirikan (Charis dalam Suratno 2003).
Secara historis Kotagede disebut juga sebagai kota kejawen, yaitu kota dimana tidak pernah terjadi penyewaan tanah kepatuhan atau tanah kerajaan kepada pengusaha pertanian eropa. Dalam istilah yang lebih khusus Kotagede tidak pernah menjadi planda , dari kata walanda atau belanda. Kotagede yang didalamnya terdapat makam raja-raja Mataram, diyakini masih mempunyai sifat asli sebagai kota tradisional Jawa (Mook dalam Suratno, 2003).
Sekurang-kurangnya ada empat pusat kegiatan dalam pola tata kota tradisional jawa, juga terdapat di Kotagede (Charis dalam Suranto, 2003) yakni :
1. keraton sebagai pusat kegiatan pemerintahan,
2. masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan,
3. pasar sebagai pusat kegiatan perekonomian dan,
4. pemukiman sebagai tempat tinggal penduduk dan tempat bekerja.
Dalam pola tata kota tradisional jawa, pusat-pusat kegiatan tersebut diletakkan dalam tempat tertentu
Kawasan Kotagede kuno menggunakan konsep catur gatra tunggal yang merupakan konsep tata kota yang biasa ditemui di kota-kota yang memiliki karaton. Sejalan dengan apa yang pernah dikemukakan oleh Kostof beberapa dasa warsa yang lalu bahwa konsep semacam ini disebut juga dengan civic center, dimana kota secara spasial menjadi pusat berbagai kegiatan masyarakat. Konsep yang diterapkan di Kotagede ini memiliki 4 bangunan dan poin pokok dalam suatu kota, (Litiloly dan Ludwiarti 2021) yaitu :
1. karaton sebagai tempat tinggal raja,
2. pasar sebagai pusat perekonomian masyarakat,
3. alun-alun sebagai ruang publik dan
4. masjid sebagai tempat beribadah.
Keempat poin tersebut mencerminkan aspek-aspek yang ada dalam sebuah kota, yaitu politik, ekonomi, sosial, dan keagamaan.
Kotagede sebagai ibukota kerajaan menunjukkan struktur kota yang berciri organis (tidak teratur). Jaringan jalan yang tidak teratur (organis) merupakan ciri utama permukiman di daerah pedesaaan. Kondisi demikian berkaitan dengan Kotagede bukan sebagai ibu kota kerajaan, pada awalnya. Hal yang menunjukkan orientasi secara jelas hanyalah jalur jalan Utara/Selatan. Pasar terletak di sebelah selatan jalur jalan arah Timur/Barat, hal ini berbeda dengan kota Mataram lainnya. Komplek masjid (dengan makam, dan pemandian) terletak di sebelah barat kampung Alun alun sekarang. Letak kraton yang diperkirakan sebagai kampung Kedaton sekarang, berada di sebelah selatan alun alun. Sebelah barat pasar, tardapat komplek permukiman pedagang/pengrajin. Masyarakat Kotagede pada masa kerajaan, benyak yang berprofesi sebagai pengrajin. Masyarakat pengrajin tersebut banyak yang bermukim di sekitar Keraton (Junianto, 2017).
Kota Kabupaten
Pemerintah Kolonial Belanda kemudian membangun kota-kota kabupaten lainnya sebagai bekas kadipaten di zaman Mataram di Pulau Jawa tetap menerapkan sistem catur gatra tunggal dengan memodifikasi komponen pusat kotanya menjadi :
1. Kadipaten (Kantor Bupati)
2. Alun-alun
3. Mesjid
4. Pasar
5. Penjara
6. Menara Air (watertoren) opsional)
Kota-kota Nusantara Masa VOC (1602-1799)
https://en.wikipedia.org/wiki/Batavia,_Dutch_East_Indies#/media/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Kaart_voorstellende_het_Kasteel_en_de_Stad_Batavia_in_het_jaar_1667_TMnr_496-2.jpg
https://www.google.com/search?q=kaart+semarang+KITLV&tbm=isch&ved=2ahUKEwjImsPj-f_6AhXUKbcAHSs2DQgQ2-cCegQIABAA&oq=kaart+semarang+KITLV&gs_lcp=CgNpbWcQAzoECCMQJ1DqDVj_JGDpL2gAcAB4AIABwgGIAcIHkgEDOS4ymAEAoAEBqgELZ3dzLXdpei1pbWfAAQE&sclient=img&ei=5TtaY4iUF9TT3LUPq-y0QA&bih=625&biw=1366#imgrc=wj3mcfQsFy7GTM
https://id.pinterest.com/pin/386394843022066591/
Kota-kota di Masa Pemerintahan Hindia Belanda (gouvernemenst bestuur) (1800-1903)
Dengan dibudarkannya VOC (1799), maka mulai tahun 1800, Nusantara resmi menjadi negeri jajahan Negeri Belanda dengan nama Hindia Belanda (Nederland Indie). beberapa kota besar semakin berkembang sebagai kota perdagangan, yang ditandai dengan banyaknya perusahaan-perusahaan particuliere (swasta) Belanda yang mengekploitasi hasil kekayaan alam di sektor perkebunan, pertambangan yang didukung oleh perusahaan yang bergerak di sektor transportasi (pelayaran, dan kereta api). Beberapa kota di Pulau Jawa dan Sumatera dihubungkan dengan jalur kereta api (Jalur KA pertama menghubungkan Stasiun Samarang/Kemijen-Tanggung 1867) yang digunakan untuk memudahkan transportasi hasil bumi dari kantong-kantong produksi menuju pelabuhan untuk diekspor. Kereta api pada awalnya didesain untuk melayani angkutan barang, namun lambat laun juga melayani angkutan penumpang. Stasiun kereta api dibangun oleh perusahaan-perusahaan kereta api (misalnya NISM, SS, SCS, SDS, SJS dan sebagainya) menjadi salah satu penanda perkembangan fisik dan arsitektur perkotaan.
https://www.pinterest.com/pin/340092209353990074/
Kota-kota Hindia Belanda masa Gemeente 1903-1945
Pemikiran tentang penataan ruang di Indonesia timbul pada awal abad XX dan merupakan hasil perubahan administrasi yang ditetapkan dalam Undang-undang Desentralisasi (Oecentralisatiewet). Undang-undang yang ditetapkan pemerintah pada 1903 ini mengenalkan klasifikasi administrasi baru yang mengakhiri administrasi pusat yang terlalu berkuasa di Batavia. Hal ini membuka jalan untuk diberlakukan Ordonansi Dewan Lokal (Locale Radenordonnantie) yang menetapkan peraturan bagi pembentukan pemerintahan lokal. Pemerintah lokal atau kotamadya (gementeen) inilah yang akan menangani pengembangan dan perencanaan wilayah lokal. Langkah ini merupakan langkah awal menuju penataan ruang (PUPR 2003).
- Semarang
Nieuw Tjandi 1907-1917
Pada 1907, W.T. de Vogel, seorang dokter dan anggota dewan kota Semarang, meminta K.P.C. de Bazel seorang arsitek yang berdomisili di Belanda, membuat sketsa awal untuk rencana perluasan daerah berbukit di selatan Semarang. Beberapa waktu kemudian, dewan kota secara resmi meminta Herman Thomas Karsten (1884-1945), seorang arsitek yang bekerja sebagai manajer perkantoran di kantor arsitektur Henri Maclaine di Semarang, untuk mengajukan rancangan wilayah ini. Karsten menerimanya dan pada 1917 mengajukan rencana Candi Baru (NieuwTjandi), suatu perluasan yang dirancang untuk mengakomodasi semua kelompok etnis sesuai dengan kebiasaan masing-masing (PUPR, 2003).
Pola ruang kawasan Nieuw Tjandi ini terdiri dari:1. Rumah kepadatan tinggi (aaneengesloten bebouwing)
2. Rumah bangsa Eropa (europeesche open bebouwing)
3. Rumah kampung (kampong bebouwing)
4. Kampung yang tersebar (verspreide kampong)
6. Ruang terbuka hijau (plantsoen of open grasvelden)
Pada tahun 1916 Gemeente Semarang membuat sketsa awal perencanaan kota di Kawasan Pekunden (sekarang kawasan Mugassari, Pleburan, Pekunden, Miroto, Gabahan, Brumbung dan Karangkidul), yang kondisinya masih berupa persawahan. maupun kawasan Peterongan dan sebelah timurnya (sekarang kawasan Peterongan, Lamper Lor dan Lamper Kidul)_. Namun pada tahun 1935, kawasan Mugassari, Pleburan, Pekunden dan Karangkidul belum terlihat pembangunan fisiknya
Mlaten 1925
- Surabaya
Di Surabaya, pada 1909 dewan membebaskan lahan yang luas di Gubeng untuk lingkungan Eropa baru. Tujuh tahun kemudian membeli lahan di Ketapang dan Ngagel untuk keperluan yang sama (PUPR, 2003).
- Jakarta
Arsip tentang perencanaan kota di Jakarta (Batavia) yang terdokumentasi adalah sketsa desain district Sentong-Goenoengsari (sekarang Kelurahan Karanganyar dan Kartini Kec. Sawah Besar-Jakarta Pusat). dari Stadgemmente Batavia pada tahun 1916. Apakah sketsa desain ini dibuat oleh Berlage (seorang arsitek Belanda)? (Roosmalen, 2008) .
https://www.researchgate.net/publication/282817401_Ontwerpen_aan_de_stad_Stedenbouw_in_Nederlands-Indie_en_Indonesie_1905-1950
- Bandung
Dewan kota Bandung mulai pertengahan 1910-an memperluas wilayahnya. Perusahaan pengembang dan pembangunan lokal didirikan. Pada 1917, Biro lnsinyur dan Arsitek (Aigemeen lngenieurs en Architectenbureau - AlA) mengajukan rencana perluasan untuk bagian utara kota (PUPR 2003)
Secara umum Pemerintah kolonial Belanda melakukan segregasi sosial dalam penataan Kota Bandung. Wilayah sebelah utara jalur KA dirancang untuk dihuni oleh masyarakat belanda/eropa timur asing. Sedangkan sebelah selatan jalur KA ditempati oleh warga pribumi. Sehingga penataan ruang Kota Bandung di era kolonial lebih cenderung dilakukan di sebelah utara jalur KA.
Pada 1916 Gubernur Jenderal J.P. Limburg Stirum menyatakan bahwa semua departemen yang tidak berkaitan dengan kota pesisir harus pindah ke Bandung (Roosmalen, 2008)
- Medan
- Kp. Sekip
- Kp. Sidodadi
- Kp. Padang Loemba
- Kp. Djati Oeloe
- Malang
Dalam catatannya pada tahun 1920; Karsten mengatakan bahwa layout suatu kota terdiri dari 3 elemen yaitu (1) detail, (2) townscape dan (3) perencanaan total; dimana ketiga elemen tersebut harus saling berhubungan (Suryorini, 2010).
Bagi Karsten yang terpenting dalam pembangunan kota adalah Totalbeeld yang merupakan suatu kesan umum dari kota sebagai suatu kesatuan dengan berbagai golongan penduduk, ekonomi, kultur, dan social yang hidup bersama dengan penuh keserasian. Pembagian rumah berdasarkan ras yang telah menjadi kebiasaan di Hindia Belanda, tidak diikuti oleh Karsten. Zonering (zonasi) dari tipe rumah dan rumah tinggal berdasarkan kelas sosial merupakan ciri dari perencanaan kota Karsten. Meskipun Karsten pada tahun 1917 belum menjadi penasihat perencana kota Malang secara resmi, tapi dia sudah diminta bantuan pemikirannya mengingat pada waktu itu Karsten merupakan satu-satunya orang yang dipandang ahli dalam merencanakan kota. Perencanaan kota Malang oleh Karsten dibagi menjadi lingkungan-lingkungan dengan tujuan tertentu, yaitu untuk bangunan gedung, jalan, penghijauan dan daerah pertanian (Suryorini, 2010).
Kota-kota Indonesia Masa Kemerdekaan
Referensi :
- Catanese, Anthony J., Snyder James C. (1984). Pengantar Perencanaan Kota. (Terjemahan). Jakarta: Erlangga.
- https://www.britannica.com/topic/urban-planning diakses 11 Oktober 2022
- https://worldurbanplanning.com/what-is-urban-planning/ diakses 11 Oktober 2022
- https://www.definitions.net/definition/urban+planning. Diakses 11 Oktober 2022
- https://www.collinsdictionary.com/dictionary/english/urban-planning. Diakses 11 Oktober 2022
- https://www.archdaily.com/984049/what-is-urban-planning. Diakses 11 Oktober 202
- https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjambi/arsitektur-dan-tata-kota-masa-kolonial. Diakses 17 Oktober 2022.
- Junianto (2017) Konsep Mancapat-Mancalima Dalam Struktur Kota Kerajaan Mataram Islam Periode Kerajaan Pajang Sampai Dengan Surakarta. Seminar Nasional Space #3 Membingkai Multikultur Dalam Kearifan Lokal Melalui Perencanaan Wilayah Dan Kota
- Kustiwan, Iwan (2014). Pengantar Perencanaan Wilayah dan Kota. Modul Kuliah Universitas Terbuka
- Sakarov, O.D., Faturrohmah, S. (2018). Identifikasi Aspek-Aspek Tata Ruang Islami Pada Kawasan Cagar Budaya Kotagede Yogyakarta. Prosiding Nasional Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi XIII Tahun 2018 (ReTII)
- Sekretariat Negara (2021). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang. Jakarta.
- Tribinuka, Tj. (2014). Rekonstruksi Arsitektur Kerajaan Majapahit dari Relief, Artefak dan Situs Bersejarah. Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2014
- Wahyudi, M. A. (2006). Korelasi Tata Ruang Rumah Kuno Di Krajan Kulon Terhadap Tata Ruang Kota Kaliwungu. (Tesis). Program Pasca Sarjana, Universitas Diponegoro, Semarang.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar